PRIBADI YANG BERUBAH ; sebuah kesaksian hidup
Tanpa terasa, air
mata telah membasahi wajahku. Pagi itu, matahari belum lagi menyapa
bumi. Belum ada deru suara sepeda motor atau mobil melintas didepan
rumah tanda aktivitas manusia sudah dimulai. Sesekali terdengar suara
pedagang roti atau pedagang bubur ayam menjajakan dagangannya untuk
mereka yang mungkin tidak sempat membuat sarapan sendiri.
Seperti biasa, aku memulai hari hariku dengan menghadap yang Maha Kuasa didalam Doa dan keheningan. Aku biasanya memulai dengan ucapan syukur atas hari dan kehidupan baru yang Tuhan berikan padaku, kemudian aku mendoakan Doa Tobat agar setiap hari aku dilayakkan untuk menjadi anakNya. Setelah itu aku mulai masuk dalam keheningan. Dalam keheningan itulah aku mencoba untuk mendengar Tuhan berbicara kepadaku. Aku membiarkan Tuhan yang terlebih dahulu berbicara kepadaku sebelum Tuhan aku hujani dengan berbagai permohonan dan keinginanku. Pagi itu, dalam keheningan, sepertinya aku tengah menyaksikan pemutaran film biografi kehidupan pribadiku, langkah demi langkah sampai aku sekarang ini. Aku melihat betapa Tuhan selalu berada disisiku, menuntunku dikala aku terpeleset, menopang dan mengangkatku dikala aku terjatuh dan selalu mengingatkanku dikala aku sedang mengalami kesukaan. Melalui hatiku Dia berkata bahwa sudah lama sekali Dia rindu untuk bersama-sama dengan aku, namun aku tidak pernah menggubrisNya. Aku sangat merasakan saat-saat yang sangat pribadi dengan Tuhan. Aku merasakan seolah-olah cintaNya hanya Dia berikan kepadaku.
Seperti biasa, aku memulai hari hariku dengan menghadap yang Maha Kuasa didalam Doa dan keheningan. Aku biasanya memulai dengan ucapan syukur atas hari dan kehidupan baru yang Tuhan berikan padaku, kemudian aku mendoakan Doa Tobat agar setiap hari aku dilayakkan untuk menjadi anakNya. Setelah itu aku mulai masuk dalam keheningan. Dalam keheningan itulah aku mencoba untuk mendengar Tuhan berbicara kepadaku. Aku membiarkan Tuhan yang terlebih dahulu berbicara kepadaku sebelum Tuhan aku hujani dengan berbagai permohonan dan keinginanku. Pagi itu, dalam keheningan, sepertinya aku tengah menyaksikan pemutaran film biografi kehidupan pribadiku, langkah demi langkah sampai aku sekarang ini. Aku melihat betapa Tuhan selalu berada disisiku, menuntunku dikala aku terpeleset, menopang dan mengangkatku dikala aku terjatuh dan selalu mengingatkanku dikala aku sedang mengalami kesukaan. Melalui hatiku Dia berkata bahwa sudah lama sekali Dia rindu untuk bersama-sama dengan aku, namun aku tidak pernah menggubrisNya. Aku sangat merasakan saat-saat yang sangat pribadi dengan Tuhan. Aku merasakan seolah-olah cintaNya hanya Dia berikan kepadaku.
No comments:
Post a Comment